PAPUABARAT.SIN.CO.ID – sepotong ayam goreng berada di tangan kanan Andra. Bocah itu menyantapnya dengan lahap. Senyumnya sumringah, sebab menu Makan Bergizi Gratis (MBG) hari itu ternyata salah satu makanan kesukaannya. Tak jauh dari Andra, di kelas yang sama, Hanna tampak malu-malu ketika ditanya tentang makanan yang paling ia sukai. Setelah tersenyum kecil, matanya berbinar melihat beberapa butir anggur ompreng makanannya. Rupanya, buah itu menjadi menu favorit Hanna hari itu.
Hanya ayam goreng dan beberapa butir anggur. Namun dari meja makan anak-anak terselip cerita yang lebih besar tentang sebuah program yang hadir untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
Di tengah suasana makan siang tersebut, Irjen Kemenag Khairunas menyapa para siswa. Ia berbincang dengan anak-anak, melihat langsung makanan yang diterima, sekaligus memperhatikan bagaimana MBG dinikmati para penerima manfaat di MIN 2 Kota Tangerang Selatan, Rabu (16/9/2026).
Kehadiran Khairunas menjadi bagian dari pemantauan Itjen Kemenag terhadap pelaksanaan MBG di madrasah. Pengawasan dilakukan untuk memastikan program tidak berhenti pada tersalurkannya makanan, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik. “MBG bukan sekadar membuat anak kenyang. Yang harus kita pastikan adalah makanan yang diterima memenuhi kebutuhan gizi, aman, berkualitas, dan memberikan manfaat bagi peserta didik,” ujar Khairunas.
Menurut Khairunas, melihat langsung kondisi di madrasah menjadi penting karena keberhasilan sebuah program tidak selalu dapat dilihat hanya dari laporan administratif. Pengawasan perlu hadir di lapangan untuk melihat bagaimana program diterima oleh penerima manfaat.
Karena itu, pemantauan MBG mencakup sejumlah aspek, antara lain ketepatan data penerima manfaat, kesesuaian pelaksanaan dengan petunjuk teknis, kualitas makanan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta berbagai kendala dan risiko yang muncul dalam pelaksanaannya.
“Jangan sampai secara administratif program berjalan, makanan terdistribusi, tetapi dari sisi kualitas dan kecukupan gizi belum optimal. Di sinilah pentingnya pengawasan yang melihat manfaat dan dampak program,” tegas Khairunas.
Bagi Itjen, pendekatan tersebut merupakan bagian dari pengawasan berdampak. Pengawasan tidak semata-mata diarahkan untuk menemukan persoalan, tetapi juga memastikan persoalan yang ditemukan dapat menjadi dasar perbaikan sehingga program pemerintah semakin efektif. Dalam konteks MBG, hal itu berarti memastikan makanan yang disediakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat dan proses distribusinya berjalan dengan baik hingga sampai ke tangan siswa.
Khairunas juga menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG. Madrasah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kementerian Agama, dan pihak terkait perlu menjalankan perannya masing-masing secara konsisten agar tujuan program dapat tercapai.
“Ukuran keberhasilan program bukan hanya berapa banyak yang sudah disalurkan, tetapi apa manfaat yang benar-benar diterima oleh masyarakat,” kata Khairunas.
Di MIN 2 Kota Tangerang Selatan, ukuran itu terasa dalam bentuk yang sederhana. Andra menikmati ayam goreng kesukaannya. Hanna tersenyum karena menemukan anggur dalam kotak makan siangnya. Bagi mereka, mungkin hari itu hanya tentang makanan yang terasa enak.
Namun bagi sebuah program nasional, setiap kotak makanan membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang aman dan bergizi agar dapat tumbuh dan belajar dengan baik. Sebab di balik setiap porsi MBG, ada anak yang sedang tumbuh.
Ada semangat belajar yang sedang dibangun. Dan ada harapan masa depan yang sedang ditanam di madrasah. Hari itu, harapan tersebut hadir dalam bentuk yang sederhana, sepotong ayam goreng di tangan Andra dan beberapa butir anggur yang disukai Hanna.(***)











